Menulis adalah perjalanan

oleh Permalink 0

Di setiap sesi tanya jawab Meet & Greet dengan teman-teman pembaca buku, selalu muncul pertanyaan: apa sih menulis itu?

Bagi saya, menulis adalah perjalanan. Tidak hanya tentang diri sendiri tapi juga orang-orang, tempat, dan kejadian. Dan menulis adalah jejak perjalanan yang tercetak lekang. Tidak saja diri sendiri yang akan mengingatnya tapi juga orang lain. Hari ini, esok, dan seterusnya.

Untuk tahu siapa diri kita dan semesta, membaca dan menulis.

Mari berkarya dan jangan lupa bahagia!

 

Jakarta Undercover Nominasi Usmar Ismail Awards 2017

oleh No tags Permalink 0

Jakarta – Berbarengan dengan perayaan hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret, Usmar Ismail Awards 2017 mengumumkan 30 judul film nominasi. 30 Judul film itu adalah 1. 3 Srikandi, 2. Ada Apa dengan Cinta? 2, 3. Ada Cinta di SMA, 4. Aisyah, 5. Athirah, 6. Bangkit, 7. Bidah Cinta, 8. Bukaan 8, 9. Cek Toko Sebelah dan 10. Comic 8: The Casino King part 2.

Kemudian 11. Galih & Ratna, 12. Hangout, 13. Headshot, 14. Ini Kisah 3 Dara, 15. Istirahatlah Kata-kata, 16. Iqro,17. Jakarta Undercover, 18. Juara, 19. My Stupid Boss, 20. Pantja Sila: Realita dan Cita-cita. 21. Rudy Habibie, 22. Sabtu Bersama Bapak, 23. Salawaku, 24. Shy Shy Cat, 25. Sundul Gan, 26. Surat Cinta untuk Kartini, 27. The Window, 28. Uang Panai, 29. Warkop DKI Reborn:Jangkrik Boss! Part 1, dan 30. Wonderful Life.

Dijelaskan Wina Armada SH, selaku Ketua Dewan Juri UIA 2017, UIA adalah perwujudan dan penjabaran tokoh Usmar Ismail. Yang dikenal bukan saja semayai Mayor Intel tapi juga seorang jurnalis. Oleh karena itu, jurinya adalah wartawan. Karena wartawan adalah representasi masyarakat, katanya saat memberikan sambutan di Hall Pusat Perfilman Haji Usmar Ismal, Jakarta, Kamis (30/3),

Wina menambahkan, dengan komposisi terdiri dari 37 juri yang mencakup 6 kota besar dan satu di Eropa, sistem penjurian UIA menggunakan parameter yang terukur dan sangat bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu, parameter dalam membedah dan menimbang sebuah film dengan estetikanya, bahkan sudah dibuku putihkan. Bahkan persoalan gratifikasi diatur dengan jelas, imbuh dia sembari menekankan UIA tidak mengenal sistem nominasi, sebagaimana awarding perfilman yang ada.

Sistem nominasi dihindari, berdasarkan pertimbangan insan film Indonesia mempunyai kecenderungan emoh dan enggan mendatangi sebuah hajatan awarding film, begitu mengetauhi film yang diproduksinya, atau yang didukungnya, tidak masuk dalam nominasi. Dalam catatan Wina Armada, berdasarkan penjurian yang telah berlangsung sejak bulan Januari 2017, dari statistik film yang dinilai di UIA, 30 persen bertema komedi, sisanya religi Islam dan muatan lokal.

Wujud Rasa Syukur

Sebagaimana gelaran UIA pertama pada tahun 2016, UIA 2017 pada gelaran malam puncaknya, masih bekerjasama dengan stasiun Trans 7. Dijelaskan Andi Chairil, Direktur Produksi Trans 7, pihaknya dengan senang hati kembali bekerjasama dengan Yayasan PPHUI untuk kembali menggelar malam puncak UIA 2017,Karena kami menilai film bagian dari sebuah peradaban bangsa, ujarnya.

Sebelumnya Irwan Usmar Ismail, Ketua Yayasan Usmar Ismail mengatakan, UIA dibuat sebagai wujud rasa syukur dan apresiasi kepada insan perfilman. Karena penghargaan UIA adalah penghargaan insan film sesungguhnya, ujar Irwan merujuk pada pidato presiden Soekarno tentang film Darah dan Doa karya Usmar Ismail, yang dinilai sebagai karya insan film Indonesia yang sesungguhnya. Yang memulai proses syuting pada 30 Maret 1950.

Adisoerya Abdi, Dewan Pengarah UIA menjelaskan UIA 2017 telah melakukan banyak pembaruan, baik secara sistem penjurian yang makin matang, juga teknis pelaksanaannya. Intinya, semua akan berjalan jauh lebih baik, terukur, dan transparan, ujarnya. Hal senada dikatakan Sonny Pujisasono, Ketua Panitia UIA 2017, menurut dia hajatan UIA 2017 bukan sekedar memperkaya kazanah awarding di Indonesia. Lebih dari itu, di UIA kedalaman dan profesionalitas sekaligusfairness-nya sangat terjaga, katanya.
(Benny Benke/CN41/SMNetwork)

 

Sepanas Apa Film Jakarta Undercover?

Liputan6 – Buku karya Moammar Emka, Jakarta Undercover dituangkan dalam bentuk film berjudul sama dengan sentuhan sutradara Fajar Nugros. Film yang mengangkat tema gaya hidup di Jakarta itu akan tayang pada 23 Februari 2017 mendatang.

Seperti isi buku, film produksi Grafent Pictures dan Demi Istri Production itu juga akan menyajikan sisi lain dari kehidupan sehari-hari masyarakat urban di Jakarta. Tentu dilengkapi dengan adegan seksi yang menggambarkan kehidupan dunia malam serta orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Meski dihiasi dengan berbagai adegan panas, sineas Jakarta Undercover tidak khawatir filmnya akan terlalu banyak disensor, atau bahkan dibatalkan tayang. Mereka telah menentukan batasan untuk penayangan adegan-adegan tersebut.

Kami dari awal, materi buku dan filmnya memang 17 tahun ke atas. Disensor itu kan kalau kita bikin konten 17 tahun ke atas tapi mintanya (kepada Lembaga Sensor Film) 13 tahun, kata Fajar Nugros, saat ditemui di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/1/2017).

Lagipula, menurut Fajar, benang merah dalam buku undercover yang kemudian dituangkan ke dalam film memang menampilkan sisi gelap dari gaya hidup masyarakat Jakarta. Mustahil bila visualisasinya tidak menampilkan aktivitas para pekerja seks komersial (PSK) yang memang menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.

Kita mau nunjukin maknanya kan, kalau judul film Ada Hantu di Sekolah, tapi enggak ada hantunya, penonton pasti protes. Dan ini juga adegan panas buat kekuatan film, bukan untuk pamer atau sok-sokan, jelas Fajar Nugros.

 

‘Jakarta Undercover’ Angkat Kehidupan Ibukota dengan Bumbu 18+

Jakarta – Detik.com -Jika Anda menebak film ‘Jakarta Undercover’ jalan ceritanya seperti isi bukunya, hal itu tak sepenuhnya benar. Ini merupakan film kedua dari buku berjudul sama karya Moamar Emka.

Siap rilis bulan ini, filmnya kali ini tak hanya menampilkan cermin ibukota yang kelam dengan serangkaian kehidupan malamnya yang menggoda syahwat.

Saat mampir ke redaksi detikHOT, Jumat (3/2/2017), sutradara Fajar Nugros menguraikan garis besar cerita film tersebut yang tak hanya menggambarkan Jakarta sebagai kota yang menjadi tujuan banyak orang meraih impian.

Namun juga tentang seseorang yang menjalankan mimpi itu.

“Pada umumnya semua orang yang memfilmkan Jakarta tuh tentang meraih mimpi. Eh kita ke Jakarta yuk meraih mimpi, nah part itu tuh udah selesai di sebelum film ini. Part filmnya tuh orang yang sudah meraih mimpi. Tapi mimpi yang seperti apa? Dia ingin bermanfaat dalam mimpinya itu, mencari signifikansi,” jelas Fajar.

Sebagai penulis, Moamar Emka mengatakan film ini akan menampilkan banyak perbedaan dari film sebelumnya yang rilis di 2007. Menggaet produser hingga bintang baru, ‘Jakarta Undercover’ mengemas cerita yang juga lebih baru.

Meski begitu, masih akan ada sisi dewasa yang ditampilkan dalam filmnya. Terlebih film ini mengungkap tentang kekerasan terhadap kaum perempuan, kemiskinan, premanisme dan kaum minoritas lainnya yang ditangkap dari berbagai sisi kehidupan.

“Nggak ada hubungannya dengan yang dulu. Kalau bahasa istilahnya, membuat remake ya nggak remake, bukan. Membuat baru sih karena pemainnya baru, produsernya baru, dengan cerita yang baru,” tuturnya.

“Dan diambil beberapa yang menarik aja, dari cerita itu. Jadi kayak sushi girl dan striptease itu diambil beberapa yang menarik aja,” tutur Emka.
(doc/wes)

 

Jakarta Undercover Baru

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepuluh tahun lalu buku Jakarta Undercover kali pertama dibuat versi filmnya. Kini buku karya Moammar Emka itu kembali diangkat ke layar lebar.

“Itu film yang dulu juga udah lama (2007). Sekarang 2016 ke 2017, kami pengin membuat sesuatu yang baru, produksi baru dan cerita baru,” kata Moammar Emka saat berkunjung ke redaksi Kompas.com, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Jika film pertama Jakarta Undercover disutradarai oleh Lance dengan penulis naskah Joko Anwar, sekarang kedua posisi itu digantikan Fajar Nugros dan Piu Syarif.

Para pemainnya juga berbeda dari film terdahulu. Menurut Emka, buku karyanya itu terdiri dari empat seri. Masih banyak bagian yang menurut dia belum dimunculkan ke layar lebar.

“Kalau bukunya kan emang ada empat jilid, Jakarta Undercover itu ada satu, dua, tiga, dan empat. Jadi secara tema masih banyak banget yang harus diselami,” ujarnya.

Meski alur ceritanya jauh berbeda dari film pendahulunya, tema utama tentang sisi gelap Kota Jakarta tetap dipertahankan.

“Tetap based on dari Jakarta Undercover, tidak mengenyampingkan benang merahnya. Dari sisi tema dan isi, tetep berpelukan dengan bukunya,” kata Emka.

Satu hal yang juga berbeda, Emka kini terlibat langsung sebagai eksekutif produser dalam film produksi Grafent Pictures dan Demi Istri Production itu.

“Kalau yang sekarang keterlibatan aku sebagai penulis lebih total, dari awal ikut. Pengin gimana rasanya sih dari buku gue nyemplung ke film. Itukan ada proses yang harus dilewatin. Aku di sini sebagai eksekutif produser,” ucap Emka.

Rencananya, film Jakarta Undercover ini akan tayang perdana pada 23 Februari 2017.

Sederet artis peran papan atas terlibat dalam film ini, di antaranya Oka Antara, Agus Kuncoro, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Baim Wong, Ganindra Bimo, dan Richard Kyle. Juga ada artis pendatan baru Tiara Eve dan Nikita Mirzani.